Essay Kuliah Ilmu Pendidikan

Wajah Pendidikan Indonesia: Cantik tapi tak Menarik


Oleh: Zaki Mubarak

Judul di atas dapat dipersepsikan sang penulis pasti seorang pria dan sedang jatuh cinta, memendam rasa atau sedang menderita karena cinta. Ya, saya akui saya sedang jatuh cinta. Namun bukan pada perempuan yang memiliki terminology cantik, tapi pada pendidikan. Bagi saya, pendidikan itu ibarat wanita yang sejatinya harus cantik, menarik, seksi dan penuh daya pesona. Perempuan tidak cukup cantik tapi harus menarik. Banyak yang cantik tapi tak menarik, juga banyak yang menarik tapi tak cantik. Teman saya bilang, cantik itu relatif, namun jelek itu mutlak.

Tulisan ini bukan tentang wanita si Inem yang terkenal dengan ikan asin-nya atau si Ijah yang hebat karena berliannya. Ini tentang ilustrasi pendidikan ibarat seorang perempuan. Ya, pendidikan itu percis wanita, ia dibutuhkan karena tak ada orang yang tak pernah dididik, ia juga seksi karena semua pihak membutuhkannya, ia juga hamil karena memang melahirkan banyak manusia berbudaya. Jika saja pendidikan tidak ada, maka bayangkan jika dunia ini berisi laki-laki semua. Ih, bahayanya tak ketulungan. Allah menciptakan Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep.

Namun, di samping pentingnya pendidikan sebagai instrument pembangun bangsa, ada-nya saja tidak cukup. Ia harus cantik dan menarik. Cantik itu memiliki standar fisik, sedangkan menarik adalah aura psikis yang dimunculkan. Ibaratnya, cantik adalah strukturalisme sedangkan menarik fungsionalisme. Keduanya sama mirip tapi tak sama. Wanita cantik belum tentu menarik tapiwanita menarik biasanya cantik, walaupun ada yang di luar kata biasa. Aneh ya? Mungkin ada inner beauty yang berlebih di dalam dirinya. Auranya kental mirip Aura Kasih.

Pendidikan kita bisa dibilang cantik. Indikatornya banyak seperti variasi pendidikan yang beragam, fasilitas yang bermacam-macam juga sistem yang selalu berubah. Ibarat wanita, ia selalu berupaya bersolek walau kosmetiknya beragam. Ada yang pakai Wardah abgi yang butuh halal, Mebelline bagi yang bonafid atau cukup pakai bedak Merck yang harganya setara dengan sekilo cabe kriting saat ini. Kecantikannya tegantung, ya tergantung kemampuan keuangan juga kemampuan memposisikan diri. Semuanya juga dipersepsikan berbeda serta memiliki pasar yang berbeda. Ibarat wanita kampung, pasti imajinasinya tak jauh dari tradisi kampung yang murah meriah, beda dengan wanita kota yang ekspektasinya pasti melebihi orang kampung. Mereka bilang “Untuk cantik butuh modal”.

Kecantikan pendidikan kita sejatinya terletak pada ragam pendidikan. Sejak kecil hidup saya ibarat murid 24 jam. Bangun subuh ngaji subuh, setelahnya pergi sekolah sampai Zhuhur, setelahnya sekolah Diniyah, kemudian magrib mengaji “kalong” di pesantren sampai jam Sembilan malam, kemudian tidur pun harus di masjid atau pondok. Hebat kan? Teman saya, sekolahnya di sekolah “favorit” kata orang-orang. Mereka mengatakan favorit itu harus mahal, sekolahnya sampai sore dengan istilah yang macam-macam semisal fulldays, plus, atau Islam Terpadu. Apapun. Ia melakukannya dengan seksama. Kelihatannya ia memposisikan diri sebagai siswa yang “lebih” dari seusianya. Kita juga menganggap ia lebih: lebih kaya, lebih bonafid, tapi tak tahu lebih bahagia atau tidak. Tanya saja dia.

Teman saya yang satunya sekolah di sekolah negeri yang jauh di kota. Ia hidup jauh dari orang tuanya, nempel di pamannya yang katanya lebih sukses. Pagi sekolah formal, siang bimbingan belajar di lembaga yang simbolnya gajah duduk sambil baca buku, malamnya kerja kelompok. Serius banget dia belajar, hingga saat ini ia jadi dosen di Perguruan Tinggi yang katanya Favorit. Teman saya yang satunya lagi tak sekolah. Sejak tamat MI, ia langsung “dibuang” ayahnya ke pesantren. berbekal sekarung beras, lemari kayu bekas juga koper kotak yang entah muat berapa kilo. Ia datang ke pesantren dan tampak tak terlihat batang hidungnya sejak itu sampai tujuh tahun berajalan. Pas pulang langsung jadi khotib jum’at, penceramah, juga pasti bagian pembaca doa atau diminta sambutan sesepuh kampong pada acara Undangan, padahal ia ga sepuh-sepuh amat. Ubannya ga kelihatan sampai saat ini.

Mau contoh lagi teman saya yang lain? Sudah ah. Cukup itu. Substansinya pendidikan kita beragam sesuai dengan peruntukannya. Masyarakat memiliki pilihan yang banyak sehingga arah pendewasaan anak bisa didesain sejak masuk lembaga pendidikan. Beragam dalam pendidikan itu sangat cantik, karena ada opsi-opsi yang bisa dipilih sesuai kemampuan. Jika punya duit, ya harus ke sekolah yang berduit, jika ingin negeri ya silahkan ke sekolah punya negara yang gratis, jika ingin ke fulldays monggo, jika ingin ke pesantren juga gak ada yang larang. Bebas, bas, bas, bas. Cantik, kan?

Ada indikator lain? Ada. Cantik karena selalu adaptif. Kebijakan selalu berubah mengikuti jaman atau trend negara lain yang lebih maju. Saking ingin lebih maju, sistem pendidikannya bersifat eklektik atau mencampur adukan kehebatan negara-negara maju. Saking yang hebatnya diambil, kontennya overload dan disuapkan kepada sistem pendidikan kita sekaligus. Apa yang terjadi? Muntah. Ibaratnya, wajah kita yang sawo matang, akibat adanya adagium “Cantik itu berkulit putih” maka dipakailah kosmetik A ala jepang, kosmetik B ala Eropa dan kosmetik C ala negeri antah berantah. Hasilnya, bukan cantik putih tapi sawo buruk. Istilah fikihnya “talfiq”. Ga boleh, dilarang karena kebaikan hukum harus sejalan dengan resiko yang mendampinginya. Jika mengambil segala yang baik tapi abai terhadap kekurangan penyertanya (nurturant effect), itu tidak adil. Harus totalitas, walaupun tidak bisa mutlak.

Mau indikator lain? Sudahlah, nanti overload. Cukup. Anda perlu percaya kepada saya, pendidikan kita itu cantik, terutama pendidikan pesantrennya. Bukan karena hebatnya pesantren mengalahkan pendidikan formal, tapi karena indigenous dan unik saja. Banyak peneliti bule datang ke Indonesia bukan meneliti international school atau sekolah bonafid, tidak. Mereka tertarik keaslian pesantren hasil akulturasi agama dan budaya. Mereka juga aneh, kenapa pendidikan unik ini tidak saja diadopsi oleh pendidikan nasional Indonesia. Mereka juga aneh atas sistem double boss pendidikan kita, ada di kementerian pendidikan ada juga di kementerian Agama. Saking anehnya, kecantikan pendidikan Indonesia itu seksi, seseksi Inces yang nikah sama keturunan Jepang itu. Tahu, kan?

Namun, saya mengira pendidikan kita tidak menarik. Terminologi “menarik” tentu saja berbeda dengan “mendorong”. Menarik harus di depan, bukan di belakang. Jadi, apakah pendidikan kita terdepan dan mampu menarik negara lain untuk mengikutinya. Tentu saat ini tidak. Ada upaya pendidikan ala Islam Nusantara akan menjadi brand image pendidikan Islam kita, tapi tak tahu apakah akan berhasil atau tidak. Sampai saat ini, pendidikan kita masih kurang menarik. Apakah karena Tut Wuri Handayani (di belakang mendorong)? entahlah. Yang jelas pendidikan kita bukan destinasi utama dalam pendidikan global. Mungkin cantik tapi tak menarik.

Kenapa? Itu kan yang menjadi pertanyaan. Banyak faktor yang menjadi penyebab. Jika semua faktor saya sebutkan, maka banyak yang tersinggung. Saya sebutkan yang substantifnya saja ya. (1) politik pendidikan. Politisasi pendidikan menjadi kunci rancunya pendidikan. Orang yang mengurus pendidikan bukan dari orang pendidikan, atau orang yang mengurus kurikulum dipegang oleh orang evaluasi pendidikan. Kan aneh. Mereka menjadi demikian karena ada deal-deal politik ala politik transaksional atau politik KKN. Politik menjadi raja diraja bagi semua sistem kehidupan bernegara, sehingga pendidikan adalah hamba yang harus “taqwa” kepadanya.

(2) paradigma guru. Merubah manusia itu tak mudah, ia lebih sulit dari merubah feature phone ke smart phone. Manusia itu sulit dirubah, maka ketika guru yang merupakan manusia itu harus dirubah compatible dengan sistem yang baru maka tidak serta merta bisa berubah. Apalagi perubahan itu sangat fundamental. Semisal, media pembelajaran yang asalnya board-kapur ke web-based learning, maka semua shock. Paradigma guru mengalami stuck, tidak mau move on dan mencari kambing hitam atas ketidak mampuannya. Mereka bukan tidak mau belajar, tapi beban hidupnya terlalu menggunung. Bayangkan coba, gaji kecil, kreditan numpuk, pengawas yang galak, tuntutan pemerintah yang membludak, belum lagi suaminya selingkuh. Kan berabe. Sekarang harus disuruh mengenal web pembelajaran yang megang mouse saja gemetarnya minta ampun.

(3) minim inovasi. Menarik itu sebenarnya kata kuncinya inovasi. Kodak pada era 90an, jadi raja paling berkuasa dalam perfotoan. Sekarang? Nokia jadi raja ponsel bodoh (kebalikan smartphone) tahun 2000an, sekarang? Blackberry dengan BBM-nya jadi ponsel bonafid saat itu, sekarang? Kuncinya inovasi. Mereka mati karena terlalu percaya diri atas kecantikan tanpa melakukan inovasi agar cantiknya bisa menarik. Begitu pun pendidikan, tanpa inovasi maka akan menggali kuburnya sendiri. Kasian pendidikan jika ditanya sama malaikat, “Man Menteriuka?”

(4) sudah ah. Seperti saya bilang, jika dilanjutkan takut banyak tersinggung. Saya sendiri sebagai guru tersinggung. Tapi tak apalah, agar bisa melakukan auto kritik. Untungnya masih tiga kritikan, coba kalau ditambah tiga lagi atau empat seperti poligami, bisa jadi mata saya merembes mirip nonton film india yang polisinya selalu negatif. Yang telat lah, ya korupsi lah, ya komersilah. Apa itu mirip sekolah kita ya? Tuh kan jadi ngiritik lagi. Sudah ah, Kritik tak senikmat kripik. Pedasnya beda, yang satu enak dilidah gak enak di perut, yang satu enak ditulisan gak enak dihati seseorang. Siapa, yah?[]

Bumisyafikri, 26/07/19