Essay Kuliah Ilmu Pendidikan

Strategi Agama Menghindari Ateisme di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0


Oleh: Zaki Mubarak

Tak bisa disanggah, dampak negatif dari Revolusi Industri 4.0 dan Sociey 5.0 adalah menurunnya nilai agama dan implementasinya di masyarakat. Karena teknologi menjadi core dalam aktivitas kehidupan secara nyata di era ini, maka dampaknya bisa jadi sangat negatif. Big data yang sangat kaya, Artificial Intelligent (AI) yang dikembangkan tanpa rasa agama, Internet of Thing (IoT) yang didasari oleh liberalisasi kehidupan dan Otomatisasi sistem kehidupan yang bersumber dari nilai sekuler bisa jadi menjadi pemantik masyarakat di era ini untuk mulai mengurangi kontrol agama atau ekstrimnya meninggalkan agama (atheist) dalam kehidupan.

Hal ini tentu menjadi problem yang nyata pada kehidupan keagamaan. Dalam dimensi agama, ini merupakan ancaman yang tidak bisa dibiarkan, agama tidak boleh kalah oleh “binatang” teknologi yang datang belakangan. Agama harus tetap menjadi nilai-nilai luhur atau paling tidak harus tetap menjadi nilai etis yang tidak boleh dilupakan. Masyarakat era teknologi harus menjadikan agama sebagai ruh yang bukan membunuh kreativitas ala revolusi industri dan society, tapi harus mampu bersenyawa dan menjadi bagian integral dalam prosesnya.

Memang agak sedikit meragukan jika agama bisa hilang karena pengaruh teknologi. Tesis ini perlu dikaji secara mendalam dan holistik. Namun, di banyak negara maju, misalnya di Jerman atau Inggris bahkan Prancis, sudah nyata bahwa masyarakat sudah banyak meninggalkan agama dan menjadi atheis. Terlepas siapa yang patut disalahkan, apakah faktor agamanya yang tidak akomodatif terhadap teknologi atau teknologi yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengontrol manusia secara sporadis, dalam hal ini agamalah yang dirugikan. Secara nyata, manusia teknologis secara bertahap dikontrol oleh produk teknologi, baik karena kemudahan, kecepatan atau otomatisasi yang begitu me-ninabobokan penggunanya. Ini fakta dan ini sulit untuk dihindari.

Jadi, jika agama tidak memiliki strategi dalam menghadapi era Revolusi Industri ini, ia akan mengalami degradasi secara bertahap dan bahkan bisa jadi ditinggalkan (Atheis). Memikirkan strateginya akan menjadi upaya agama agar bisa bertahan dari “gempuran” teknologi dan berupaya “kawin” dengan aktivitasnya. Mau tidak mau, sadar tidak sadar produk teknologi saat ini sudah mulai mengontrol manusia. Sebut saja aplikasi sosial media yang begitu masif digunakan oleh masyarakat relijius Indonesia. Alquran yang awalnya menjadi bahan bacaan ritual masyarakat sekarang memiliki saingat dengan WhatsApp yang setiap hari menyajikan berita yang tentu saja menarik dibaca dibandingkan dengan Alquran. Bagi generasi yang belum mengerti arti luhur agama, tentu saja WhatsApp akan dilirik dan lebih disukai karena segala keunggulannya dibanding dengan Aquran yang bagi mereka keunggulannya tidak mudah ditemukan.

Strategi Agama Menghindari Ateisme

Strategi ini adalah strategi yang tidak mudah diimplementasikan. Paradigma teknologis yang sangat praktis, instan, kreatif dan produktif berhadapan dengan agama yang sangat jumud, divine, konservatif, tradisional dan statis. Tentu saja ini lawan yang tidak seimbang. Agama yang relatif berkembang pesat di pedesaan dan teknologi yang digunakan secara umum di perkotaan adalah entitas yang berbeda. Menghadapkan dua paradigma ini sangat tidak fair. Tapi itulah fakta dan memang kompetisinya tidak seimbang. Agama harus berupaya “menyesuaikan” atau bahkan “melawan” kontrol teknologi pada diri manusia.

Sebelumnya, teknologi terutama teknologi internet sangat terbatas di perkotaan saja. ketika insfrastruktur jaringan internet sudah meluas dan didukung oleh pemerintah dalam akses informasi di pedesaan serta yang terpenting kemajuan internet seluler, maka teknologi mengalami internalisasi di masyarakat pedalaman. Dengan begitu, produk dan ekses teknologi bukan saja miliki perkotaan, tapi saat ini menjadi tantangan bagi pedesaan. Jika kegiatan agama dahulu sangat masif dan terstruktur di desa, saat ini teknologi telah “mengganggunya”. Bisa jadi agama mulai memudar sakralitasnya karena teknologi yang digunakan di pedesaan, walaupun di perkotaan kegiatan agama juga semakin bergairah. Namun, itu kasuistik, beda dengan penggunaan teknologi yang sangat holistik.

Beberapa strategi ini diharapkan bisa mampu menjadi counter attack agama terhadap teknologi. Agama yang bagi saya sebagai pihak yang ditantang butuh strategi untuk mengalahkan penantangnya. Teknologi memang tak pernah memiliki agama, tapi eksesnya tak bisa menghindar dari peran agama yang sangat fundamental. Technologies have no religion but its impact disturb religion its self. Sehingga, Agama butuh strategi untuk bertahan dari upper cut teknologi, yang dalam kesempatan yang lain bisa jadi agama “tumbang” dari teknologi.

Pertama strategi protektif. Strategi ini adalah strategi yang paling lemah di antara strategi lainnya. Yakni, strategi yang mencegah teknologi masuk ke ranah manusia. Teknologi diupayakan jangan sampai bisa digunakan oleh manusia atau paling tidak dibatasi aksesnya oleh manusia. Mencegah manusia dari kontrol teknologi adalah cara prustatif yang bisa dilakukan oleh agamawan, walaupun untuk tujuan penting itu bisa sangat dilakukan. Manusia tidak boleh berganti kontrol dari yang selama ini terjadi yakni dikontrol penuh oleh agama.

Agama sebagai System of Belief memiliki otoritas yang tinggi tehadap kontrol kemanusiaan. Manusia yang taat akan takluk pada agama baik dari aturan hidup, keyakinan, dan harapan di masa depan. Agama sangat memiliki potensi untuk bisa mengatur segala hal dalam kehidupan manusia. Agama bisa memproteksi manusia dari menggunakan teknologi. Menghindarkan kehidupan dari teknologi yang berpotensi mengontrol manusia di masa depan adalah cara bagaimana memenangkan kontestasi kontrol antara agama dan teknologi.

Mungkin strategi ini bisa digunakan oleh lembaga pendidikan semacam pesantren. Tujuan utama dari pesantren adalah mencetak ulama, dimana ulama bukan diraih dengan pengetahuan teknologi yang kekinian, tapi diakibatkan oleh penguasaan pengetahuan masa lalu yang sangat ilahiah. Ilmu agama sudah dianggap settle dan tak akan mengalami perubahan signifikan. Artinya teknologi tidak dibutuhkan secara fundamental, paling sebagai media penyebar saja. Jadi dalam konteks media, teknologi hanya digunakan sebagai alat untuk menyebarluaskan. Hal ini mudah dan sampai saat ini sudah mulai terlaksana. Ulama tidak membutuhkan kemampuan teknologi yang dalam. Tak ada alasan menggunakan teknologi sebagai bagian organik dari pesantren.

Memproteksi teknologi akan mampu meningkatkan fokus kepada ilmu agama yang sangat luas. Menghindarkan manusia dari teknologi bisa menjadikan ilmu agama “murni” tanpa ada “penggembosan” teknologi yang mengganggu. Belajar dari sumber asli dan bukan dari google, bing atau yahoo adalah pilihan “murni” yang bisa mempercepat belajar agama. Memproteksi teknologi bukan berarti anti teknologi, tapi menghindari teknologi yang dianggap menjadi benalu dalam belajar agama. Ketika agama sudah dikuasai, maka teknologi harus menjadi alat untuk menyebar luaskan ajaran agama.

Kedua strategi persuasif. Strategi ini mengupayakan teknologi menjadi bagian integratif dari agama. Agama “membujuk” atau “meyakinkan” teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dari ajarannya sehingga terjadi agamaisasi teknologi. Seperti banyak dilakukan oleh perguruan tinggi semisal UIN Bandung yang menginisiasi “wahyu memandu ilmu”. Terjadi islamisasi terhadap ilmu yang pada gilirannya adalah islamisasi terhadap teknologi beserta derivasinya. Hal inipun dilakukan oleh Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) yang berupaya bagaimana memaknai ilmu pengetahuan dalam kaca mata Alquran dengan tagline “Iqra”. Teknologi harus lahir dari rahim Alquran dan berupaya mengsinkronisasikannya.

Artinya, strategi persuasive ini adalah langkah win-win solution yang menjadikan teknologi sebagai “sahabat” bukan sebagai “musuh” dalam agama. Tentu saja ini adalah strategi yang sangat baik walaupun masih abai terhadap karakteristik teknologi yang belum tentu berkelindan dalam agama. Sebagai contoh, teknologi bisa mengontrol hidup manusia sampai manusia lupa terhadap Tuhan yang mana inti dari ajaran agama. Hukum fikih klasik yang dikomodifikasi sejak zaman dahulu memiliki pertentangan dengan aturan teknologi yang banyak membypass aturan fikih. Jual beli online, akad digital, nikah digital, murid tanpa guru, perguruan online tanpa sanad ilmu yang jelas, dan seterusnya adalah tantangan pengembangan fikih agama yang belum tentu bisa disepakati oleh para agamawan. Mencari kelindan agama dan teknologi bukan perkara yang mudah.

Strategi ini akan berjalan panjang mengingat belum ditemukannya formula komprehensif antar agama dan teknologi. Bisa jadi, ketika ditemukan formula agama dan teknologi, strategi ini akan menjadi pilihan utama dan pertama, tapi ingat bukan hanya teknologi sebagai alat saja tapi organik dalam agama. Agamaisasi teknologi menjadi ruh dalam pengembangan teknologi. Mungkin Iran adalah contoh bagaimana mengintegrasikan agama dalam pengembangan teknologi yang mereka gunakan walaupun mereka kesulitan dalam mereformulasi teknologi dalam ajaran agama yang sangat umum.

Ketiga strategi preventif. Strategi ini adalah strategi penjagaan atas nilai-nilai negatif yang muncul di dalam teknologi. Agama sebagai sumber nilai harus mampu memfilter mana yang baik dalam teknologi dan mana yang sebaliknya. Agama diyakini sebagai instrument untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan bagi hidup manusia. Jadi, agama harus menjadi komando dalam hidup manusia dan berupaya menyaring apapun yang hadir dalam kehidupan manusia, termasuk nilai-nilai negatif dari teknologi.

Strategi ini paling rasional yang bisa dilakukan saat ini. Menjaga manusia dari kontrol teknologi yang bisa mendestruksi agama adalah yang paling bisa dilakukan oleh agamawan. Artinya, perlu ada “instrument saringan” agama terhadap ekses negatif Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Semisal aplikasi google untuk Youtube konten dewasa atau aplikasi sosial media yang wajib menghindari konten-konten negatif dan berita bohong. Memang mudah dikatakan, tapi sulit diterapkan. Big data yang memiliki konten milyaran harus disaring oleh kecerdasan buatan (AI) yang cara kerjanya menggunakan algoritma. AI memang bisa disiasati sesuai “rasa” dan “nilai” kemanusiaan, tapi tetap itu menggunakan bahasa pemrograman yang tak murni seperti manusia. Akan ada banyak kebocoran konten dari saringan ini.

Strategi preventif paling tidak menjadi alternatif. Seperti bagaimana smart city atau society 5.0 diimplementasikan dalam mempermudah kehidupan manusia. Agama harus masuk menjadi bagian komponen yang dipertimbangkan dalam menyusun AI. Nilai-nilai dasar agama ini bisa jadi menjadi nilai utama dalam pengembangan kecerdasan buatan. Big data sebagai referensi sistem kehidupan harus difilter oleh nilai-nilai agama, yang tentu saja ini diaplikasikan dalam AI yang berbasis agama.

Keempat strategi Kuratif. Strategi ini adalah strategi agama dalam mengobati nilai-nilai negatif yang muncul akibat ekses teknologi. Strategi ini adalah problem solver atas akibat teknologi yang tidak memanusiakan. Agama adalah instrument memanusiakan manusia sesuai kodratnya, tapi dalam perjalanan teknologi, manusia bisa terdekonstruksi kemanusiaannya akibat kontrol yang berlebihan. Agama harus mampu menyelesaikannya, karena pada segala situasi agama diyakini bisa menjadi “obat” untuk segala hal.

Ada banyak pendekatan yang bisa dilakukan dalam strategi kuratif ini. yaitu:
1. Pendekatan spiritualisme, yaitu mengembalikan jiwa manusia kepada spirit ketuhanan. Teknologi yang mengontrol adalah sangat fisik, sehingga kerusakan fisik bisa ditanggulangi oleh psikis yang agama memiliki dosis sempurna untuk itu. Tekniknya bisa menggunakan bacaan agama yang sangat ruhiah, bisa juga mujahadah dzikir yang sangat taslim (berserah sepenuhnya kepada Tuhan).
2. Pendekatan mistisisme. Dalam berbagai istilah Indonesia, mistis memiliki koneksi negatif dengan agama, karena mistis seolah hantu, syetan dan mahluk ghaib. Dalam bahasa Inggris mistisisme lebih mengarah kepada sufisme. Pendekatan sufisme bisa menyelesaikan masalah kontrol teknologi yang fisik dengan jalan (tareekat) metafisik. Sufisme akan mengantarkan dan kemudian menjauhkan manusia dari pandangan fisik menuju metafisik Sang Pencipta.
3. Pendekatan tombo ati (obat hati). Ada lima obat hati dalam kegelisahan yang bisa diakibatkan oleh teknologis-fisik. (1) berkumpul dengan para orang soleh. Seperti hadits Nabi “hendaklah kalian berkumpul dengan para ulama dan mendengarkan para hukama (orang bijak).” (2) melakukan sholat malam, (3) berpuasa, (4) mebaca kalam Ilahi dan maknanya, (5) dzikir kepada Allah pada tengah malam. Lima ini sebenarnya adalah teknik bangaimana hati bisa dikendalikan secara spiritulistik sehingga mampu menghindari dunia materi-fisik seperti teknologi.

Keempat strategi ini tentu saja adalah tawaran dan aplikasinya sesuai konteks dimana teknologi itu sebagai penyakit agama. Keempatnya adalah upaya bagaimana agama diletakan dalam kehidupan secara proporsional dan menjadi fondasi dari perkembangan zaman. Saat ini, teknologi yang begitu pesat menjadi keniscayaan yang tak bisa dibantah. Menjauhinya atau menolaknya justru akan menjadi paradox yang membingungkan. Satu sisi kemajuan ini adalah sebuah kebutuhan, namun di sisi lain kebutuhan ini diboncengi oleh banyak hal negatif yang agama perlu membatasinya. Upaya agama dalam membatasinya tentu saja harus sesuai dosisnya. Bisa protektif, persuasif, preventif atau kuratif. Memang istilahnya mirif dengan ilmu kesehatan, tapi tak apalah jika teknologi itu semacam penyakit, tidak ada yang larang, kan?[]

Bumisyafikri, 14/8/19