Uncategorized

Selamat Bertemu dengan Anak-anakmu, Ayah

Oleh: Zaki Mubarak

AYAHsekarang kau bisa bertemu dengan anak-anakmu. Masih terbersit bagaimana rasa sedihmu ditinggal mereka dal am sekejap. Tidak ada yang menyangka mereka akan mendahuluimu. Tak diduga mereka akan meninggalkan kita begitu cepat dan menyayat. Ya mereka adalah Moch. Ibnu Sina dan Nisa Aminatul Hajjah, dua anakmu yang terdepan dikunjungi malakul maut diantara keluarga kita pada tahun 2008. Sembilan tahun sebelum ajalmu tiba.

 

Saya takut berdosa untuk tidak menceritakan hal ini kepadamu, Ayah. Saat itu, kau tidak mau mendengarkan cerita ini. Saat itu kau sangat kuat untuk menghadapinya, bahkan orang tidak menyangka bahwa kau bisa sekuat itu. Ditinggal dua orang anak sekaligus dengan usia remaja menuju dewasa, saat mereka beranjak dewasa dan akan membuat mu bangga. Saat itu kau tidak begitu ingin mendengarkan cerita ini. Saat itu kau percaya diri bahwa hatimu tidak akan leleh. Saat itu kau yakin bahwa kekuatan hatimu akan teguh, walau dua tahun kemudian mata berbinarmu harus berobat ke Cicendo untuk sekedar mengecek kekuatannya. Dokter bilang, ini diakibatkan oleh kesedihan yang mendalam.

 

Ayah, izinkan cerita ini ditulis. Bukan hanya untuk mu, tapi untuk cucumu, agar suatu saat nanti mereka tahu bahwa ayahnya tidak menyembunyikan tentang kejadian ganas itu. Agar ayahnya tidak memendam cerita yang selalu disimpan dalam hati untuk kakeknya. Sekali lagi izinkan ya, Ayah. Mungkin keluarga kita juga ingin mengetahuinya. Sekedar ingin mengetahui, agar mereka selalu ingat akan kejadian yang sangat dramatis itu.

 

Ayah, cerita itu diawali dengan kehebatanmu mendidik anak. Rumah anak-anakmu bukanlah di rumah yang kau bangun, tapi di pesantren. Tempat itu adalah tempat yang ideal bagimu untuk anak-anakmu. Pesantren adalah rumah yang kau sediakan untuk anak-anakmu, bahkan kau tidak rela mereka tinggal berlama-lama di rumah. Mereka pun akan sangat nyaman bila tinggal itu di pesantren, karena dalam darahnya mengalir mujahid pendidikan Islam.

 

Ibnu Sina atau nama kecilnya disebut “Ayom”. Saat itu, ia sedang menjalani ritual pendidikan ala mu, Ayah. Ya, ia kau persiapkan untuk mengganti posisi kehebatanmu atas dalamnya pemahaman kitab kuning bernama “Alfiyah Ibn Malik” Ia kau kirim ke pesantren unik dan enerjik bernama Riyadhul Alfiyah, Sadang Garut. Karena itu juga, saya harus bolak-balik mendampinginya dengan cara mengajar di SMAN Sucinaraja. Setiap minggu saya berkunjung dan melihat dengan baik perkembangannya. Hampir dua tahun Tasik-Garut saya memutar gas untuk mengikuti gayamu, Ayah. Ayom sangat senang, walau sedikit merana. Sejak SMP kau selalu menitipkan ia. Sejak empat tahun di Pesantren Pasirbokor, sampai ia ke Garut. Ia selalu bersama saya, Ayah. Saya lakukan amanahmu.

 

Nisa atau Ibunya senang memanggil ‘Nca”. Saat tabrakan maut itu sedang menata kehidupan ala mu, ayah. Enam tahun mondok di Sukahideung dirasa kurang pas bagimu Ayah. Kau mengirim anak bungsumu itu ke Pesantren Pasirbokor, dimana saya dan Ayom telah merasakan bagaimana belajar dasar-dasar kitab kuning. Sukahideung dengan gaya balaghohnya dirasa belum cukup untuk membekali Nisa dalam menghayati kitab kuning sebagai sebuah tradisi. Nisa sangat bersemangat untuk mengaji dan berniat hanya setahun saja sebelum mendaftarkan diri ke UIN Bandung. Saat tragedi itu, Ia sedang persiapan masuk kuliah dengan menyelesaikan pendidikan komputernya di Triguna dan selalu pulang ke Pasirbokor. Ia sudah minta izin kepada pimpinan pesantren untuk pulang dan kuliah di Bandung, namun faktanya ia pulang selamanya.

 

Ayah, mereka berdua sangat dekat dengan saya. Ia sepertinya telah menganggap saya sebagai kakak dan tempat berpulang. Saat Ayom pulang ke Tasik, ia bukannya ke rumahmu tapi pulang ke pesantren dimana kakaknya tinggal. Ia sangat mencintai pesantren sepertimu, sehingga pulangpun ingin ketemu kakaknya di pesantren. Entahlah ayah, Ia selalu bercerita tentang kita, tentang masa depan kita, tentang arti sebuah hidup. Ia tidak mau berkuliah seperti kakaknya, ia ingin fokus membangun kebanggaan ayah melalui pendidikan takhasus pesantren. Ia begitu hebat ayah, ia ingin melanjutkan perjuanganmu.

 

Sama hal dengan Nisa, kejadian itu berawal dari pulangnya ia kesaya sebagai kakaknya. Bukan ke rumah kakaknya, karena saya belum berkeluarga apalagi punya rumah. Saya hanya tinggal di pesantren dimana sang guru telah memberikan kepercayaan untuk dikunjungi oleh tamu dan keluarga. Sepulang dari Triguna untuk test akhir, kepulangannya pun saya jemput di sela saya mengajar. Untuk beristirahat sejenak, maka kamar berukuran 3 X 4 meter persegi dapat menampung kita bertiga untuk sekedar bersenda gurau atau belajar komputer yang saya beli dengan kredit. Sebelum kejadian itu, Nisa mengetik sebuah sajak yang isinya memilukan, seperti ada hubungan erat antara puisi itu dengan kejadian ke depannya.

 

Ayah, sebenarnya saya berdosa. Engkau selalu menitipkan si bungsu Nisa kepada saya untuk diantar pulang. Namun, ada takdir yang aneh tentang tragedi itu. Setelah shalat magrib dan datangnya Ayom berkunjung, saya didatangi tamu yang sangat membuat saya gak karuan. Tamu yang merupakan kepala KUA dan kepala Kementerian Agama saat itu membuat saya urung untuk memegang amanahmu. Seharusnya, saya lah yang harus meninggal bersama Nisa jika itu takdirnya. Karena sayalah yang wajib dan diamanahi kau mengantar dan menjemputnya. Tapi tamu itu, membuat saya meminta sang Adik untuk menggantikan posisi.

 

Entahlah, saya tak mengerti. Saya seorang santri yang beranjak dewasa yang tak punya apa-apa. Dua orang petinggi kemenag yang sudah lama saya kenal dan kawan dalam kuliah magister itu dikirim Allah untuk menggeser takdir-Nya. Saya sangat menyesalinya, ayah. Saya sangat berdosa kepadamu ayah. Saya melanggar kesepakatanmu, Ayah. Maafkan saya Ayah. Ini di luar dugaan saya. Saya tidak tahu harus bagaimana menceritakan kesalahan saya ini. Maaf kan Ayah. Maafkan anak dan kakak yang tidak bertanggung jawab ini.

 

Setelah Ayom ikut mengaji Tafsir Jalalain di mesjid pinggir pondok, saat wudlu menyambut shalat isya saya pun meminta. Ia mengiyakan untuk membantu saya yang sangat sibuk. Ia sangat maklumi saya yang banting tulang memandirikan diri menjadi anak dewasa. Ia siap mengantarkan Nisa, adiknya, untuk pulang. Dengan dimensi apapun sebagai landasan berpikirnya, jika saya tahu tragedi tabrakan maut itu akan terjadi, maka saya tidak mungkin minta Ayom untuk menggantikan. Ia begitu mulia untuk kehidupan dibanding saya yang tidak tahu kemana jalan kehidupan dilalui.

 

Motor Honda Supra X yang selalu menemani saya kemana saja adalah saksi tragedi tragis itu. Entahlah saya tidak tahu ada apa dengan motor ini. Sehari sebelum kejadian naas itu, ketika saya sedang melintas di Jalan SL Tobing, tiba-tiba ada mobil Pick Up. Sopir, yang berdasarkan pengakuannya, sedang belajar menyetir mundur tanpa perhitungan dan menabrak saya. Untung saja tidak ada kejadian yang sangat fatal. Hanya pecahnya spakboard bagian depan. Sudah saya perbaiki dan tidak ada kerusakan yang serius, saya pun meyakininya.

 

Malam kedua setelah kejadian itu, kepala saya pening dan sangat banyak yang harus dikerjakan. Di samping ada dua tamu yang “penting” saya pun harus mengerjakan beberapa pakerjaan untuk besok. Tentu saja pekerjaan ini harus dikerjakan ketika sudah menghadiri pengajian malam. Dengan berkunjungnya Ayom, saya rasa sangat membantu untuk mengantarkan Nisa pulang. Saya tidak memiliki pandangan lain selain itu, Ayah.

 

Namun, setelah berangkatnya mereka berdua jam 20.00, dan ketika jam 22.00 kami para santri sedang berkumpul di mesjid untuk mengkaji kitab Uqudul Juman, ada berita yang sangat menyayat. Sebuah telepon dari polisi yang menyatakan bahwa kedua adik saya meninggal. Yang satu meninggal di tempat, yang satu meninggal di rumah sakit. Saat itulah saya merasa berdosa. Seharusnya saya lah yang meninggal, bukan Ayom yang sangat tawadhu itu. Ayah, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan kepada mu saat itu. Saya merasa bersalah. Hanya keimanan terhadap taqdir saja yang menyelematkan saya dari rasa salah itu.

 

Ayah, kau sekarang sudah bertemu kembali dengan mereka berdua. Kau bisa melihat bagaimana bahagianya mereka berdua. Mereka syahid karena meninggal dalam masa pendidikan seperti yang Nabi janjikan. Mereka akan menyambutmu dengan penuh senyuman, Ayah. Di pusaranmu yang berdekatan dengan mereka berdua, saya meyakini bahwa kau bertemu dan berbahagia di alam sana. Selamat bertemu kembali dengan kekasih mu, Ayah. Mereka berdua adalah investasi kebaikanmu di dunia. Mereka berdua tak pernah berhenti belajar sepertimu. Mereka bagian dari keluarga besar pesantren yang sangat kau banggakan. Mereka sangat membanggakan. Bagi saya, Ibu, keluarga dan kolega.

 

Saya yang kalian tinggalkan, senantiasa memanjatkan do’a untuk kebahagiaan akhiratmu. Fatihah ini akan senantiasa dilantunkan sebagai hadiah untuk kalian bertiga.

 

Bumisyafikri, 11/08/17

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar