Agama

PENTINGNYA PENILAIAN “PROSES”

Oleh: Prof. Dr. H. Muhtar Solihin, M.Ag.

Seringkali suatu pekerjaan disebut sukses ketika ada wujud produk yang dihasilkannya. Tukang cetak batu bata dianggap sukses ketika menghasilkan tumpukan bata hasil kerjanya sehari-hari. Pengrajin kue dianggap sukses ketika hasil kerja pembuatan kue dapat dijual atau dinikmati banyak orang. Tentunya banyak lagi contoh lainnya.
Dalam kontek pekerjaan “benda real” memang hal itu bisa menjadi salah satu ukuran sukses atau tidaknya pekerjaan. Lantas bagaimana alat ukur kerja sosial (misal berdakwah, mendidik, dan lainnya). Alat ukur kesuksesannya tentu bervariasi dan bisa saja cenderung subyektif. Nah disinilah penulis perlu mengajukan sebuah thesis bahwa kerja sosial adalah sebuah proses dan penilaiannya pun penilaian proses. Allah tidak semata-mata menilai hasil (produk) dari suatu pekerjaan, tetapi yg lebih penting dinilai adalah usaha (proses)-nya. Nabi Musa AS dinilai oleh Allah bukan berhasil atau tidak mengajak Fir’aun dan para pengikutnya untuk beriman, dan buktinya Fir’aun dan pengikutnya tetap tdk beriman kepada Allah SWT. Kemudian Nabi Ibrahim AS tidak dilihat apakah Raja Namrud menjadi beriman atau tidak dengan ajakan Ibrahim AS. Begitu juga Nabi Nuh AS bukan dinilai berhasil atau tidaknya mengajak umatnya beriman, bahkan anaknya sendiri tidak berhasil diimankan.
Kalau kita merujuk ke al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 119, akan nampak betapa usaha atau proses itu menjadi penting. Lebih jelasnya, ayat yang dimaksud adalah:


Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dg kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka”.
Dari ayat itu bisa kita pahami bahwa Nabi Muhammad SAW tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang para penghuni neraka, tetapi yang penting adalah usaha atau proses untuk mengajak kepada jalan kebaikan sehingga selamat dari neraka. Wa Allahu A’alam bi murodih.