Essay Kuliah Ilmu Pendidikan

Paradigma Pendidikan Abad 21: Dari Pendidikan Tradisional, Modern, Posmo dan Post Truth


Oleh: Zaki Mubarak
ISTILAH Abad 21 adalah istilah yang mengacu pada waktu. 21 berarti usia tahun masehi sejak tahun 2001 hingga 2100. Jika sekarag adalah tahun 2019, maka tahun ini adalah termasuk pada abad 21. Abad ini memiliki sisa waktu sebanyak 81 tahun lagi atau delapan dasawarsa. Jika abad ini telah habis, maka akan masuk kea bad 22 yang usianya adalah seratus tahun kemudian. Jadi ababd 21 adalah abad dimana fenomena-fenomena yang hadir pada masa ini memiliki karakteristik tersendiri dari sebuah dinamika yang panjang.

Para ahli sejarah sepakat, bahkan agamawan juga mengamininya bahwa setiap fenomena akan selalu berulang. Kitab suci agama senantiasa memberikan gambaran fenomena masa lalu untuk menjadi gambaran masa kini. Tafsir bebasnya, kejadian masa lalu bisa jadi terjadi di masa kini, walaupun derajat dan bentuknya bisa berbeda. Tapi, substansinya tetap sama. Contoh, saat ini kita disuguhkan prilaku disorientasi sosial yang digaungkan oleh kaum LGBT (lesbian, gays, biseksual dan transgender). Di dalam Qur’an disebutkan adanya kaum Sodom, yang bentuk dan jenis prilakunya secara substantif sama walaupun ada penambahan prilaku semacam biseksual dan transgender.

Jadi kita sepakat, bahwa ada fenomena hasil ulangan dari masa lalu, tapi ada juga fenomena yang menjadi ciri khas saat ini. Dahulu saya tidak meyakini telah ditemukan teknologi serat optic seperti sekarang, atau bagaimana dahulu memiliki jenis koomunikasi antar manusia dengan menggunakan aplikasi. Tentu saja saya tidak meyakini hal ini ada di zaman dahulu. Namun, itu hadir hari ini dan menjadi sebuah gaya baru dalam berkomunikasi. Mungkin saja era abad ini akan dipandang ketinggalan jika dilihat di masa yang akan datang. Bisa jadi android dan berbagai aplikasi yang dipandang hebat saat ini akan menjadi teknologi pada abad 22 atau 23.

Dalam kontek pendidikan, tentu saja abad 21 harus memiliki perbedaan dengan abad 20. Pendidikan secara luas didefinisikan sebagai kehidupan itu sendiri, sehingga desain pendidikan bisa mengikuti era pada kehidupan zaman itu sendiri atau pendidikanlah yang mengubah kehidupan itu pada zamannya. Keduanya sangat berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Untuk kontek abad 21, sepertinya pendidikan kita kalah cepat dengan kehidupannya. Kalau dahulu lembaga pendidikan adalah institusi yang melahirkan perubahan karena tidak begitu banyak lembaga serupa yang mampu menghasilkan perubahan itu sendiri, namun saat ini lembaga pendidikan memiliki saingan berat. Lembaga riset yang begitu progresif dalam meneliti dan mengembangkan pengetahuan, lembaga Research and Development setiap perusaan yang setiap saat melahirkan produk-produk baru adalah contoh dimana kemajuan kehidupan tidak saja lahir dari institusi pendidikan, tapi dari lembaga lainnya. dampaknya, kadang lembaga pendidikan yang tidak inovatif kalah cepat dengan kemajuan lembaga riset yang lebih powerful dan berkemajuan.

Pendidikan Tradisional
Dalam istilah pendidikan berdasarkan abad, maka ada istilah abad 19, 20, 21 dan seterusnya. Untuk memudahkan dialektika, maka muncul beberapa istilah yang mengacu pada karakter pendidikan pada masanya. Tentu saja istilah ini disebutkan oleh orang masa kini, yang mana menganggap masa lalu ada masa ketertinggalan, yang padahal orang pada masa itu menganggap masanya adalah masa yang paling hebat. Mereka menganggap masanya adalah masa kemajuan, padahal di masa yang akan datang, masa ini adalah masa ketertinggalann juga. Itu normal.

Ujungnya, kriteria masa lalu senantiasa diistilahkan dengan narasi “tradisional”. Sejatinya istilah tradisional tidak tepat karena “tradisional” berarti sesuatu yang mentradisi. Biasanya tradisi ini telah menjadi kebiasaan dan menjadi karakter kehidupan. Semisal tradisi orang Islam yang melakukan perayaan Lebaran dengan memakan kupat. Dari dahulu tradisi itu ada hingga sekarang, sehingga istilah Sunnah Rosul dalam bahasa Inggris ditransliterasi menjadi “tradition”.

Istilah tradisi juga berkelindan dengan istilah “klasik”. Kalau tradisi lebih kepada prilaku yang dilakukan terus menerus dan dilakukan sampai sekarang, nah klasik lebih kepada produk. Klasik lebih mengacu pada produk yang dipakai dari dahulu dan masih digunakan sampai saat ini. contoh, kitab klasik yang sejak dahulu dibuat sampai saat ini masih dibaca. Pakaian klasik yang tidak lekang dimakan waktu. Kopi klasik yang dahulu diracik sampai saat ini pun masih digunakan. Jadi tradisional dan klasik memiliki substansi makna yang sama.

Tradisional juga memiliki kelindan dengan istilah “ortodok” atau “konservatif”. Namun, kedua istilah ini lebih berkonotasi negatif dengan makna yang kurang lebih mengacu pada masa lalu. Ortodoks adalah kata yang dibangun dari dua kata latin yakni “orthos” yang bermakna benar dan “dokein” yang bermakna pikiran, ajaran dan pendapat. Jadi ortodoks bisa diartikan ajaran atau pikiran atau pendapat yang benar. Ortodok pun bisa diartikan kepada pikiran kolot, ajaran kuno atau kepercayaan yang fundamentalis.

Ortodoks pun memiliki makna yang sama dengan konservatif. Sejatinya konservatif adalah “kolot” yang diambil dari kata “conservare”. Artinya melestarikan, menjaga, mengamalkan. Konservatif jadi sebuah paham politik yang berupaya mengembalikan segala sesuatu kepada masa lalu, namun maknanya masa lalu bisa berbeda. Bisa tentang status quo, bisa juga kepada kebudayaan yang diyakini kebenarannya. Jadi konservatif tidak berarti selalu sama satu paham dengan paham konservatif yang lainnya. Namun, substansinya sama yakni bagaiman hal yang lalu bisa lestari dan terjaga untuk diamalkan.

Nah, jadi pendidikan tradisional bisa disebut pendidikan klasik, ortodok, atau konservatif dengan definisi yang memiliki perbedaan sedikit. Pendidikan tradisional adalah pendidikan yang mengacu pada masa lalu dengan tujuan melestarikan hal yang terdahulu. permasalahan muncul adalah definisi “masa lalu”. Masa lalu bisa berarti ribuan tahun, ratusan tahun, puluhan tahun tergantung dari definisi yang dibuatnya. Sehingga pendidikan tradisional dalam benak saya adalah pendidikan yang masa lalu saya sebagai sebuah pengalaman dan pengetahun dari buku-buku yang sangat terbatas.
Jadi apa pendidikan tradisional dalam rancang bangun pemahaman saya tidak akan lepas dari aliran pendidikan klasik. Berbagai aliran pendidikan akan dibahas dalam bab selanjutnya. Pendidikan tradisional tidak lepas dari bagaimana hasil pendidikan diasumsikan pada pengetahuan yang banyak yang berdampak kepada landasan implementasi pendidikan. Pendidikan itu tentang buku teks, hapalan (rote learning), menjelaskan masa lalu, nilai-nilai universal dan seterusnya. Pendidikan ini banyak berlaku pada pendidikan agama, pendidikan seni budaya dan tentu saja pendidikan sejarah.

Pendidikan Modern
Peningkatan satu strip dari pendidikan tradisional yang multitafsir adalah pendidikan modern. Era modern lebih mengacu pada tahun setelah tahun 1500. Tahun ini ditandai dengan runtuhnya kekuatan besar dunia kekaisaran Romawi Timur dan ditmukannya benua Amerika. Era ini dimulainya penemuan-penemuan teknologi yang belakangan disebut Revolusi Industri. Penemuan benua dan teknologi bersamaan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan politik serta kebutuhan bahan mentah yang bisa didapatkan dari seluruh penjuru dunia.

Era ini pula yang mendorong golden age eropa dari dark agenya. Kabutuhan industri yang barang mentahnya didapatkan dari wilayah lain menyebabkan kolonialisme. Dari kolonialisme inilah ini negara bentuk nation-state hadir dan demokrasi pun muncul. Di era ini pula kemajuan ilmu pengetahuan teknologi bermula sehingga modern secara sederhana diartikan sebagai era kemajuan.

Masalah yang muncul adalah era modern menjadi antitesa era tradisional. Ada banyak nilai agama dan budaya masyarakat masa lalu yang berbentrokan dengan era modern. Para agamawan berupaya memproteksi nilai agama yang tidak sesuai dengan era ini, begitupun budayawan yang berupaya mengembalikan etika-budaya lama agar tidak “terlindas” oleh budaya baru yang hadir karena dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya moderat dari mereka adalah bagaimana mensintesiskan kemajuan iptek dengan nilai agama dan budaya yang selaras sehingga tidak saling “membunuh” satu sama lainnya.

Istilah era lain yang muncul di era modern adalah positivistic. Era positivistic adalah era dimana kebenaran harus dipandang secara rasional dan empiris. Kebenaran harus dapat diukur dan diamati sehingga kebenaran yang tidak tampak dianggap kebenaran abstrak. Agama sebagai kebenaran yang dipandang “abstrak” dianggap kebenaran nisbi. Hal inilah yang mengakibatkan atheis muncul di negara-negara yang paham positivismnya sangat tinggi. Tokoh positivistic yang sangat kental adalah August Comte yang mampu menjadikan scientific method sebagai cara tebaik dalam meraih kebenaran.

Paradigma lainnya yang mewarnai era modern adalah era strukturalisme. Era ditandai dengan adanya pemilahan struktur dari masing-masing komponen, sehingga setiap komponen dibangun oleh bagian-bagian struktur yang tidak bisa dipisahkan. Istilah standar dalam mengukur setiap komponen menjadi hal yang baku. Setiap komponen diukur standarnya dan memiliki standar minimal untuk menjadi bagian komponen dimaksud.
Pendidikan modern akan lebih menjadikan pendidikan sebagai sebuah sistem seperti paradigma yang membangunnya. Dalam aliran pendidikan, pendidikan ini adalah pendidikan teknologis, dimana pendidikan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari struktur komponen yang membangunnya. Ada kurikulumnya, ada silabusnya, ada lesson plannya ada medianya, sumber belajarnya, gurunya, sarana prasaranya, dan seterusnya. Maka dalam pendidikan modern akan muncul komponen pendidikan yang membentuk sistem pendidikan yang di Indonesia dikenal dengan 8 standar pendidikan. Standar ini menunjukan bagaimana pendidikan dibangun oleh sebuah komponen yang memiliki standar dan memiliki karakter measurable and observable.

Pendidikan Post Modern
Antitesa dari pemikiran modern adalah post modern. Post modern atau yang biasa dipendekan menjadi “Posmo” adalah pemikiran dimana akibat dari kemajuan di era modern memiliki dampak serius bagi sebagian lainnya. Biasanya adalah rakyat kecil, miskin, inferior dan marjinal adalah objek dari pemikiran ini. Posmo lebih mendengar kepada dampak-dampak kemajuan yang dialami oleh pihak yang lebih kecil. Mereka harus didengar dan diperhatikan kebutuhannya serta dihargai suaranya, sehingga kemajuan itu berimbang, bukan hanya untuk kelangan yang besar dan masyarakat luas tapi juga untuk mereka yang terdampak dari kemajuan yang menjadi komponen kebenaran.

Film Sexy killers yang viral di bulan April 2019 adalah contoh bagaimana paradigma Posmo digunakan dalam memandang dampak lingkungan atas batubara dan listrik. Kebenaran akan hebatnya modernitas yang menjadi penciri era modern di tampilkan sisi yang berbeda atas kaum yang terdampak dari batu bara sebagai bahan bakar utama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Paradigma lainnya yang berkelindan adalah post kolonialisme atau Posko. Posko adalah pola pikir dimana setiap masyarakat yang terdampak dari kolonialisme harus diperhatikan. Kolonialisme yang menjadi produk modernitas berdampak besar kepada alam bawah sadar yang terjajah. Mereka merasa marjinal dalam pergaulan global. Seperti marjinalnya orang Indonesia atas kelompok manusia ras putih. Mereka merasa aneh jika orang kulit putih menjadi pedagang kecil “cilok” misalnya, atau mereka juga akan merasa aneh jika orang dengan rasa Barat menjadi pemulung. Dalam alam bawah sadar mereka, seharusnya orang ras putih Barat itu harus berdasi, bermobil dan seterusnya. Inilah hal yang dijadikan fokus Posko untuk merubah mindset masyarakat.

Tentu saja pendidikan Posmo memiliki alasan sendiri untuk mengembangkan masyarakat. Baik Posmo ataupun Posko lebih mementingkan kepentingan masyarakat secara umum dan tidak mengorbankan pihak manapun. Maka, pendidikan ini lebih mengutamakan penyelesaian masalah sosial. Lembaga pendidikan adalah cara bagaimana problematika ini diselesaikan oleh sekolah. Aliran pendidikan ini lebih kepada pendidikan interaksional, dimana problem solving menjadi bagian penting dalam implementasinya. Penjelasan pendidikan interaksional dan rekonstruksi sosial akan dijelaskan pada bab berikutnya.

Pendidikan Post Truth
Post adalah pasca, truth adalah kebenaran. Post-truth secara literal berarti pasca kebenaran. Dalam mendefinisikannya, ada dua nada dari post truth: negatif dan positif. Negatif dimana post truth adalah kebenaran yang jamak karena hadirnya hoaks (kebihongan), fitnah, dan pembenaran yang tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah. Kasus dalam pemilu tahun 2019 adalah era post truth dalam dimensi negatif dimana masyarakat disajikan informasi yang sangat beragam dari kubu yang pro maupun kontra. Masayarakat pembaca akan kebingungan dan bertanya-tanya tentang mana yang benar. Kebenaran tidak lagi menjadi single reality, tapi menjadi multiple reality. Kebenaran menjadi tidak ada, yang ada adalah “pembenaran.

Post truth juga bisa bermakna positif. Yaitu, kebenaran yang sangat banyak karena sebuah kebenaran tidak bisa dilihat secara mikro. Kebenaran harus dilihat dari hakikat kebenaran secara makro. Tidak bisa parsial. Jika kebenaran dilihat secara parsial (terpisah-pisah) maka kebenaran itu menjadi jamak dan terlihat bertolak belakang. Seperti ilustrasi tiga orang yang ditutup matanya dan diminta untuk mendeskripsikan seekor gajah. Seorang menjelaskan bahwa gajah itu panjang dan tinggi. Seorang yang lain menjelaskan gajah itu tipis dan lebar sedangkan yang lainnya menjelaskan bahwa gajah itu besar membulat. Ketiganya benar, tapi dimensi untuk menjelaskannya parsial sehingga ketiganya berbeda. Yang satu melihat belalinya, yang satu kupingnya yang satu perutnya. Jika dibukakan matanya, maka mereka akan paham hakikat kebenaran gajah itu.

Dengan keterbatasan pengetahuan manusia, maka kebenaran parsial harus disambungkan satu sama lain. Pendidikan dengan post truh harus mencari kebenaran itu dengan banyak sumber sehingga kebenaran harus benar-benar dicari dan dikembangkan. Maka dalam pendidikan paradigma ini tidak cukup dengan satu sumber saja apalagi sekarang data sangat banyak. Big data yang disimpan di cloud (sistem server internet, semisal google) menjadi penguat bahwa kebenaran tidak bisa bersifat tunggal tapi jamak. Kebenaran akan valid jika pendidikan telah menemukan secara utuh data yang dibutuhkan. []