Agama

“NYANYIAN SERULING BAMBU”: PENCARIAN SPIRITUALITAS JIWA


Oleh: Prof. Dr. H. M. Solihin, M.Ag.
(Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

”Nyanyian Seruling Bambu” adalah judul puisi karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi terbesar sepanjang masa yang dikagumi di Timur dan Barat ini. Ia dilahirkan 30 September 1207 M di Balkh Afganistan. Untaian puisi yg menarik untuk kita analisa adalah:

“Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu
Mendesah selalu, sejak direnggut dari rumpun rimbunnya dulu,
Alunan lagu pedih dan cinta membara.
Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwanya dengan jiwaku!
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pencinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!”

Nyanyian seruling versi Rumi itu mengandung makna spiritualitas yang amat dalam. Sebuah seruling dapat melantunkan lagu sedih dan gembira, lagu hura-hura dan nestapa, dan lagu sanjungan maupun hinaan, sesuai kepiawaian si peniupnya dalam mengkombinasikan jemarinya untuk menutup dan membuka lubang seruling.

Letak kejeniusan Rumi dalam untaian puisi itu adalah ketika ia memandang seruling bambu sebagai subyeknya, bukan si peniup seruling. Nyanyian itu keluar dari rintihan hati seruling karena meratapi keterpisahan dari induknya (rumpun bambu). Dari rintihan kesedihan inilah keluar lagu “sedih nan pilu”, seperti rintihan bayi terlahir ke dunia. Di balik kesedihan, ternyata dibarengi pula kegembiraan berharap kembali bersatu dengan induknya. Hasrat gembira untuk bersatu ke induknya menyebabkan suara yang keluar adalah lagu “gembira nan merdu” yang penuh nada cinta membara, sesuai bait puisinya: “Ini nyala Cinta yang membakarku, Ini anggur Cinta mengilhamiku. Sudilah pahami betapa para pencinta terluka. Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!” Untaian syair ini menggambarkan cinta yang menggebu seperti anggur cinta untuk terus mendekat kepada yang dicintai (Tuhan).

Seruling bambu melambangkan jiwa manusia yang rindu kepada asal-usul kerohaniannya dalam alam spiritual-metafisik, dan kerinduannya itu dibakar oleh api cinta, sehingga lagu indah dan merdu dapat dihasilkan. Seruling yang sudah terpisah dari induknya dianalogikan sebagai manusia yang sudah terpisah dari kehidupan rohaniahnya, kehidupan yang dekat (qurb) dengan Tuhan. Manusia ingin kembali kepada perjanjian primordial kemurnian tauhid sebagai “syahadat” keimanan murni ketika ruh baru saja diciptakan-Nya. Ketika itu Allah bertanya kepada ruh yang baru diciptakan di alam arwah: “Alastu bi rabbikum, qâlû balâ syahidnâ: “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (QS.al-A’araf 127).

“Rahasia nyanyianku, meski dekat, Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat”, bait ini mengilustrasikan betapa dekatnya bibir manusia dengan seruling, namun kedekatan itu hanya sekedar melihat dan mendengar not-not lagu (nada) saja. Manusia tidak mendengar dan memahami arti pesan dari rintihan itu. Bait ini adalah kritikan kepada manusia, dimana manusia disuruh belajar kepada seruling. Manusia diilustrasikan sebagai potongan-potongan seruling bambu yang melantunkan lagu sendu dan gembira. Seolah seruling mengajarkan lantunan lagu sendu harus difahami sebagai lantunan “istighfar” atau pertobatan manusia kepada Allah. Sementara lagu gembira adalah lantunan do’a dan dzikir manusia kepada Allah.

Maka dari itu sejarah perjalanan hidup manusia sebenarnya adalah sejarah menuju kembali ke alam spiritual, penyatuan buluh-buluh bambu dengan rumpunnya. Mereka yang tidak mampu beristighfar, taubat, do’a dan dzikir akan terjerembab dalam godaan hasrat duniawi yang sifatnya semu dan membinasakan. Kehidupan dunia telah menodai dan menjadi virus yang merasuki jiwa yang membuatnya lupa kepada Tuhan. Inilah rintihan jiwa yang patut didengar yang dianalogikan sebagai seruling. Kegagalan dalam penyatuan spiritual akan membuat manusia teraleniasi (terasing, terpisah) baik dari dirinya sendiri lebih-lebih kepada Tuhan. Penyakit aleniasi inilah yang disinyalir sebagai biang keladi kemaksiatan disamping tragedi kemanusiaan, seperti peperangan, permusuhan, dan krimilanitas sepanjang masa.

Hasrat seruling ingin kembali kepada induknya sebagaimana hasrat manusia untuk kembali kepada Allah, diilhami dari Surat al-Baqarah ayat 156: “Innâ lillâ wa innâ ilaihu râji’ûn” (Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh akan kembali pula kepada-Nya). Pertobatan, istighfar, do’a dan dzikir adalah metode untuk kembali ke alam spiritual mendekati Allah dalam habitat alam ketenangan, kesejukan, kedamaian, dan ketentraman. Inilah yang dilukiskan al-Qur’an: “Alâ bi dzikrillâh tathma’innal qulûb” (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” Q.S. ar-Ra’du:28). Alhasil, dengan memahami nyanyian seruling bambu inilah mengajak kita kembali pada spiritualitas jiwa yang selama ini kita cari.

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar