Kuliah Ilmu Pendidikan

Kompetisi vs. Kolaborasi: Pilihan Mana untuk Sekolah Masa Depan?


Warning: A non-numeric value encountered in /home/u6164185/public_html/zakimu.com/wp-content/themes/herald/core/template-functions.php on line 193

Zaki Mubarak

Kemarin, saya dapat dua momen yang keduanya berkelindan. Satu karena mahasiswa berkonsultasi tentang sistem zonasi, kedua jadi pendengar saja opini orang tua siswa yang diterima anaknya di sekolah yang menurutnya favorit. Dua momen itu saya ikat dengan judul agak sulit dimengerti, karena dua istilah itu adalah inti dari dua moment tadi.

Saya jelaskan tentang zonasi. Sesungguhnya zonasi hanya pintu masuk untuk menggapai kesetaraan pendidikan. Secara teknis, menyetarakan lembaga pendidikan harus diawali dengan kebijakan. Rotasi guru, kelengkapan fasilitas, kontrol mutu adalah beberapa strategi yang harus dilakukan dalam kebijakannya. Jika sekolah sudah setara, tak ada lagi kasta sekolah semisal favorit, bonafid, biasa, misik, la yahya la yamut.

Sejatinya kasta itu lahir dari kompetisi. Secara teoretis, kompetisi bisa berdampak keunggulan mutu setiap sekolah. Namun, itu jika sekolah dianggap pacuan kuda. Atau, sekolah dianggap arena perlombaan yang ujungnya adalah kalah-menang, juara-pecundang, bahagia-sedih, bisa-tak bisa. Bagi zonasi, sekolah adalah sub kultur masyarakat yang menjadi pusat belajar kehidupan secara utuh. Komponen kehidupan yang satu sama lain berkait, tidak didefinisikan harus homogen, harus standar dan harus rigid. Kehidupan adalah sistem yang dibangun oleh keragaman dan tak bisa diseragamkan. Semakin seragam, ya semakin tak bernilai kehidupan itu.

Jadi zonasi, ujungnya ingin sekolah itu belajar hidup. Terlepas zonasi terdefinisi oleh ruang yang terbatas, zonasi sebetulnya ingin mematahkan paradigma srkolah yg penuh kompetisi. Bukan berarti kompetisi buruk, tapi sekolah harus diletakan sebagai basis belajar kecakapan hidup dengan potensi yang beragam dari anak didik. Semakin beragam, maka semakin luas indikator keberhasilan dan semakin hilang standardisasi pendidikan.

Saya melihat, dampak paradigma sekolah yang masih menggunakan standardisasi tunggal berujung kepada penilaian tunggal. Rata-rata lembaga pendidikan menilai aspek kognitif sebagai hal paling pertama dan utama. Salah? Tentu tidak. Namun, jika standar itu menjadi core, maka tak salah jika kita sebut sekolah sebagai alat test, lembaga uji, tempat ujian, sekumpulan penguji, dan yang paling ekstrim disebut lembaga penghasil generasi stres. Di dalamnya hilang kreativitas, produktifitas, daya kritis dan harapan hidup anti mainstream. Hidup harus ikut pola yg dididikan secara mentradisi, yang faktanya tidak selalu cocok.

Saya melihat dengan jelas bagaimana orang tua siswa begitu bangga ketika anaknya masuk sekolah favorit. Begitu juga saya meyakini, orang kaya ingin memasukan anaknya di sekolah yang bonafid. Semakin bonafid semakin tambah pula status sosialnya. Itulah fakta, dimana paradigma kasta sekolah masih hadir dalam bawah sadar kita. Apa itu salah?

Jika berkaca pada negara maju, saya bisa katakan itu bisa salah bisa benar. Sekolah model itu ada contohnya yakni Amerika. Namun, mereka sekarang sadar bahwa model Finlandia lebih baik darinya. Sekolah yang memerdekakan, melahirkan kemandirian dan membahagiakan adalah tujuan sekolah yang hilang di Amerika. Mereka mencoba untuk menengok kembali desainnya, walaupun mereka tetap tidak kehilangan fokus akan STEM-nya. Science, Technology, Math adalah focus kajian dengan mencoba menurunkan tensi sekolah sebagai “penjara”. Mereka ingin mendesain sekolah yang menggembirakan dan melepaskan belenggu rigid yang sudah menjadi karakter Amerika.

Lantas, apa yang diharapkan dari sekolah masa depan. Kuncinya bukan di kompetisi tapi di kolaborasi. Sekolah harus menjadi tempat bagaimana kerjasama menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan anak. Di sana akan muncul care, respect, tolerance, giving, life long education and memahami hidup di masa depan dengan meaningful. Kolaborasi bisa menumbuhkan potensi masing-masing tanpa merasa marjinal atas potensi yang tak dimilikinya. Alasannya, tak ada standar tunggal dari kesuksesan.