Cerpen

Kematian Tak Bertuan

syifa zakimu
Oleh: Zaki Mubarak

SEJENAK aku baca lagi draff skripsi itu. Tak ada salah, namun konsepnya kian melebar. Tidak fokus. Aku guratkan coretan bolpoin di kertas kosong agar kesalahannya dapat diperbaiki. Dua mahasiswa di depanku kelihatannya kaku membeku. Mereka seolah takut bahwa kesalahan itu membuat mereka dimarahi. Mereka saling tatap dan tak pernah mengeluarkan suara sepatahpun.

“Fit, ini yang salah. Bapak udah tandai agar diperbaiki. Konsepnya jangan terlalu lebar dan kamu harus fokus pada topik.” Terangku pada Fitri mahasiswa yang aku bimbing. Ia tak menjawab, wajahnya merah. Sepertinya ada ketakutan yang sangat. Aku tak paham, padahal wajahku tak menyeramkan.

“Iya pak, nanti Rosalina bantu.” Jawab teman disampingnya.

“Lho, yang bimbingan kan kamu Fit, kenapa yang jawab Rosa.” Tanyaku pada fitri yang terus membeku.

“Maaf pak, ia sedang sakit. Saya yang mendorongnya untuk menyelesaikan. Kami berdiskusi untuk konten dan metodologinya. Penelitiannya pun kami satu tempat agar bisa bersama-sama.” Jawab Rosa dengan menatap Ffitri dan tangannya saling memegang.

“Ya sudah kalau begitu. Semoga Fitri cepat sembuh dan tidak menyerah yah. Ada Rosa yang membantumu. Beruntunglah memiliki sahabat yang baik sebaik Rosa, bersyukurlah bahwa ia setia menuntunmu untuk sebuah masa depan. Terus bantu yang Ros.” Pintaku pada Rosa.

“Iya pak, pasti.” Jawabnya.

Keduanya berpamitan dan akupun mengagumi Rosa yang menjadi pemikul beban temannya yang tidak mampu. Aku lihat begitu bersahajanya ia untuk sebuah pertemanan. Skripsi yang begitu berat baginya di take over demi sebuah persahabatan. Rasa sakit temannya dirasakan seperti sakitnya, sehingga harus menolong sehebat orang tuanya. Raungan motor yang dikendarai Rosa meninggalkan aku yang mematung.

*****

Dalam hiruk pikuk wisuda yang menggema, ada banyak nama yang disebutkan untuk dipanggil sebagai pelantikan wisudawan. Mataku mencari, dimana dan kapan Rosa naik ke panggung pelantikan. Aku takut bahwa Ia tidak mengikuti kelulusan dan wisuda tahun ini. Maklum ia wanita yang sibuk. Pekerjaannya bisa membuat ia telat untuk menyelesaikan studi.

Di samping membantu temannya yang butuh bantuan, ia juga aktif berorganisasi. Ia menjadi salah satu ketua organisasi perempuan di luar kampus di samping aktif di Hima prodi dimana ia belajar. Kuliah tak pernah absen dan kegiatan-kegiatan positifnya pun jarang ditinggalkan. Ia mahasiswa yang ideal untuk sosok perempuan.

“Rosalina, S.Pd.” suara itu menggema di gedung. Telingaku pun menjadi tenang, karena nama itu ada. Nama yang ditunggu itu disebut dan diberi tepuk tangan meriah oleh kawan-kawannya. Jadi kesibukannya tidak menyeret ia menjadi mahasiswa abadi. “Alhamdulillah” batinku.

“Bapak terimakasih ya.” Ucapnya saat aku berikan map simbolik ijazah dan janji wisudawan berwarna hijau itu. Aku menatapnya tajam dan ikut berbahagia.

‘Selamat ya Ros, jangan sampai berhenti belajar. Tetap menolong, tetap aktif, dan tetap bersahaja.” Pintaku sambil memegang tangannya yang keringatan.

‘Iya pak makasih telah membimbing saya. Maafkan segala khilaf ya pak.” Jawabnya sambil mengumbar senyum kebahagiaan. Anggukan kepalaku sebagai syarat mengiyakan dan tanda rasa ikut bahagia aku sampaikan secara sederhana. Ia berlalu karena wisudawan lain telah menunggu di sampingnya.

*****
Di malam setelah wisuda itu, aku merasa ada yang aneh dalam tidurku. Tidak ada yang mengganggu pikiranku, namun malam ini aneh. Bisa jadi rasa capai yang sangat telah membuat daya pikirku dan ototku kehabisan untuk berpikir dan bergerak, atau karena ada unsur lain. Entahlah, tapi malam ini aku merasa otakku tak karuan.

“Siapa kau” tanyaku sambil menatap tajam perempuan berbalut jubah putih. Ia sangat cantik namun kecantikannya tidak terlalu jelas. Ia berperawakan tinggi, namun tak tahu berkaki atau tidak.

“Aku adalah….” Jawabnya. Ia menatap langit yang hitam kelam. Kemudian ia menatapku dengan tatapan yang tajam.

“Aku adalah ilmu pengetahuan yang kau berikan. Aku adalah murid kau yang kau banggakan. Aku adalah manusia yang ada dalam balik meja kantormu. Aku adalah sahabat yang selalu peduli dengan kawan-kawanku.” Lanjutnya yang tak aku mengerti. Aku diam. Lidahku kelu. Mulutku berat untuk mengatakan. Kerongkonganku kering untuk berucap. Jubah putihnya berkibar tersibak angin yang kencang.

“Aku adalah kematian yang tak bertuan. Aku inginkan apa yang diperintahkan Tuhan. Aku tak pernah takut untuk mematikan” Ucapnya membuat aku semakin takut. Ada rasa kematian yang menyusup di dada. Ada rasa gerbang kematian telah hadir di depan mata.

“Berdo’alah untuk seseorang yang akan segera aku ambil, janganlah takut mati karena mati untuk siapa saja. janganlah kau kuatir akan kematian, karena tidak ada yang salah dengan kematian. Kematian akan datang dan pergi silih berganti.” tutupnya sambil melayang entah kemana.

Aku tatap perempuan itu dengan tatapan lirih. Ia menghilang dengan meninggalkan kesedihan. Lidah keluku mulai bertulang. Kerongkongan keringku mulai berair. Mulut kakuku mulai terasa berotot. Dan tiba-tiba aku pun bangun dari tidurku.

“Mimpi yang aneh” gumanku.

*****

Malam jum’at ini aku sangat kecapaian. Setelah menagajar dari pagi hingga sore tanpa henti, akhirnya aku terkapar di kamar tidurku sejak sholat magrib dilakukan. Anak-anak yang menggangguku tidak pernah menyurutkan mataku menutup mata yang sudah lima watt. Mereka terlihat sedih karena ayahnya tak kunjung bangun. Pengajian rutinku pun aku abseni karena kelelahan yang sangat.

Tetiba, tengah malam aku terbangun teringat sholat Isya yang aku belum laksanakan. Handphone yang ada disampingku berkedip kencang bertanda banyak pesan yang masuk. Aku sempatkan untuk melihatnya agar sholatku tenang dan tak pernah memikirkan apa-apa.

Lalu, aku sangat terkejut. Rosa seorang mahasiswa yang sangat bersahaja dan sangat dekat dengan sahabat-sahabatnya itu diberitakan wafat. Entah ini benar atau tidak. Aku segera memeriksa semua berita WA, dan hasilnya sama bahwa mereka membicarakan kematian mahasiswa yang kemarin di wisuda itu.

Aku tak habis pikir, apakah ini berita benar atau tidak. Karena sepengetahuanku tidak ada yang salah bagi dia. Ia muda, cantik, bersahaja, membantu orang lain, tak berpenyakitan, atau apalah. Aku pikir ini adalah kesalahan malakul maut mencabut nyawanya. Namun tiba-tiba wajah orang yang aku impikan seminggu yang lalu itu berkelebat di depan wajahku.

Aku mengerti. Aku paham. Kematian tak bertuan datang dan pergi untuk sesiapa saja. Wajah perempuan dalam mimpi itu tersenyum dan hilang begitu saja. ia tersenyum untuk sesaat. Waktu telah menunjukan jam satu dini hari. Dalam sujudku, aku panjatkan do’a untuk almarhumah untuk segala kebaikannya. Semoga Engkah mendapatkan Rahmat di sisi-Nya wahai murid hebatku.{}

In Memorian untuk Syifa Rosalina, S.Pd. Wafatmu membuat kami terhenyak. Tapi itu adalah Takdir yang harus kami imani. Selamat jalan kawan.

Bumisyafikri, 06/10/17

66 Komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar