Agama

JEBAKAN RASIONALISME DAN EMPIRISME BARAT


Oleh: Prof.Dr.H.Muhtar Solihin, M.Ag.

Sadar atau tidak, bahwa selama ini kita terjebak pada pemikiran rasionalisme dan empirisme versi Barat, sehingga untuk mengukur segala kebenaran itu cenderung berdasarkan pendekatan rasionalisme dan empirisme. Sesuatu dianggap benar bila sesuai dengan logika dan sesuai dengan kenyataan yang ada.

Sekedar contoh, misalnya, ketika anak kita terkena silet, kemudian kita ambilkan obat luka, diteteskanlah ke tempat luka, dan kemudian ternyata lukanya menjadi sembuh. Kemudian kita mengatakan itu adalah logis, masuk akal, nyata, benar, dan rasional karena secara empiris diobati dengan obat luka.

Tetapi ketika seorang santri terkena silet, dan dibacakanlah surat al-Fatihah oleh seorang Kyai atau Ustadz sambil diusapkan ke tempat luka, dan ternyata sembuh juga seperti diobati dengan obat luka buatan pabrik obat. Kemudian secara spontan kita mengatakan itu adalah aneh, tidak masuk akal, bahkan ada yang mengatakan itu adalah magic, sihir, dan lain sebagainya.

Ketika hal tersebut sudah terjadi pada diri kita, berarti kita memahami kehidupan hanya berdasarkan pendekatan rasionalisme dan empirisme saja, sehingga aspek-aspek spiritual rohani menjadi ditinggalkan.Sesuatu yang sifatnya spiritual dianggap sesuatu hal yang aneh dan tidak masuk akal.

Kebenaran akhirnya hanya dipandang dari sudut pandang rasionalisme dan empirisme, sementara kebenaran yang sifatnya spiritual ruhani akhirnya diragukan. Ini berarti kita sudah terjebak dan tercekoki pemikiran yang berparadigma Barat. Agama, Tuhan, surga, seraka, dan segala yang transenden supra-rasional menjadi dikesampingkan, seraya mendewakan rasionalisme, empirisme, dan tehnologi. Semoga kita selamat dari jebakan-jebakan duniawi itu.

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk mengirim komentar