Agama

EMAS DAN BATU: JALAN DEKAT MENUJU TUHAN


Oleh: Prof. Dr. H. M. Solihin, M.Ag.
(Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Manthiq al-Thayr (Musyawarah Burung) adalah sebuah karya sastra monumental yang penuh ungkapan “simbolis-alegoris” yang ditulis Fariduddin `Attar (1132-1222 M), seorang sufi legendaris dari Nisyafur Persia. Hingga sekarang karya ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan sarjana dan masyarakat sufi internasional di Timur maupun Barat, karena karya sastra ini sangat relevan dengan upaya mendekati Tuhan di tengah kehidupan modern yang penuh jebakan duniawi.

Dalam karya itu, ada untaian syair Fariduddin `Attar: “Apabila kau masih suka memilah dan memilih di antara segala sesuatu yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh jalan yang baik menuju Tuhan. Apabila kau mengklaim dirimu sendiri “dimuliakan” karena memiliki intan dan emas segudang, dan merasa dihinakan karena hanya memiliki setumpuk batu, maka Tuhan tidak akan menyertaimu. Ingatlah, jangan kau sanjung intan dan kau tolak batu, karena keduanya berasal dari Tuhan”.

Untaian syair brilliant Fariduddin ‘Attar itu layak untuk kita renungkan. Sadar atau tidak, kita masih suka memilah dan memilih dari sekian anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, sehingga mana yang menyenangkan, mana yang menguntungkan, dan mana yang sesuai keinginan, dianggap sebagai karunia dari Tuhan. Sementara sesuatu yang menyusahkan, menyedihkan, dan tidak mengenakan cenderung dianggap sebagai musibah yang harus dihindari, sehingga kita tidak mau menerima itu sebagai anugerah Tuhan juga. Padahal dalam ayat al-Qur’an ditegaskan oleh Allah:

Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (Q.S. al-Baqarah: 216).

Sikap memilah dan memilih pemberian Tuhan, dengan dasar pertimbangan baik buruk hanya ukuran manusia, merupakan sikap yang harus dihindari oleh para pencari Tuhan. Mereka ingin menyelami lebih dari soal pertimbangan akal saja, hingga menyentuh aspek spiritualnya.

Kita juga masih sering memandang kebahagiaan hanya diukur dengan gelar, jabatan, berikut harta kekayaan yang menyertainya, dan inilah yang penulis istilahkan dengan “jebakan emas”; sementara sesuatu yang berlawanan dengan hal tersebut dianggap sebagai sebuah kehinaan yang harus dihindari, dan inilah yang disebut jebakan “batu”. Ketika kita masih terperangkap dalam jebakan “emas” maupun “batu”, membuat Tuhan tidak menyertai kita dan kita pun jauh dari Tuhan.

Dari sinilah Fariduddin ‘Attar mencoba memberikan “resep” tentang kebesaran jiwa, untuk selalu menerima dengan lapang dada apapun yang diberikan Tuhan (kebahagiaan maupun penderitaan, emas maupun batu). Ketika kita berhasil menerima semuanya secara seimbang/proporsional dan menginsyafinya sebagai anugerah dari Tuhan, maka sesunguhnya kita tengah menapaki JALAN DEKAT MENUJU TUHAN.