Agama

Benarkah Agama itu Rasa?


Warning: A non-numeric value encountered in /home/u6164185/public_html/zakimu.com/wp-content/themes/herald/core/template-functions.php on line 193

Ada tulisan bagus dan saya sedikit mengkritisinya di akhir.

AGAMA ADALAH RASA … 🙏🌹👌🌹🙏

Dr. MUstafa Mahmud dalam bukunya “Ma Huwal Islam” menjelaskan, “bahwa agama bukanlah pekerjaan dan memang tidak boleh dijadikan pekerjaan. Di dalam Islam tidak ada pejabat yang disebut pejabat agama atau pengelola agama, ahli agama, atau Rijaluddin.” Yang ada hanyalah ulama yang punya “Ilmu Agama”, yaitu keilmuan yang mengantarkan untuk beragama. Ketika kita menyebut ada Tokoh Agama, itu artinya tokoh yang memiliki keilmuan agama. Di sekolahan dan di tengah-tengah masyarakat ada “Guru Agama” atau “Ustadz”, itu artinya orang yang memiliki ilmu agama, belum tentun beragama.

Syiar-syiar dan ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh kaum muslimin secara rutin dan berulang-ulang, yang tidak disertai “RASA”, sama sekali itu bukan agama. Agama bukan produk atau properti, juga bukan jasa. Maka tidak ada fesyen Islami. Jilbab, burqa’, cadar, celana, baju koko, gamis, sorban, peci, selendang, sarung, kebaya, minyak wangi, bukhur, semuanya adalah adat kebiasaan atau “urf” yang bisa dipakai oleh siapa saja. Orang Islam memakainya, orang Hindu memakainya, orang Budha memakainya, orang Majusi memakainya dan siapapun memakainya. Tidak ada musik Islami, karena yang menggunakan musik juga banyak penganut agama lain. Rebana atau gitar misalnya, orang Islam memainkannya, orang Hindu memainkannya, orang Nasrani memainkannya, orang Budha memainkannya dan sebagainya.

Beragama tidak sama dengan Berilmu Agama. Karena semua orang bisa mempelajari ilmu agama dan banyak orang mempunyai ilmu agama. Para orientalis, mereka mempelajari ilmu agama Islam dan banyak tahu tentang Ilmu agama Islam, tetapi mereka tidak Beragama Islam. Karena itu pula maka agama bukanlah ilmu.

Kalau begitu, apa itu agama?
Agama adalah “halah qalbiyyah”. Yaitu situasi kebatinan, perasaan dan sensifitas qalbu. Halah Qalbiyyah itu hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tidak bisa dirasakan orang lain, dan juga tidak bisa dipaksakan kepada orang lain untuk merasakannya. Yang kita rasakan tidak bisa dirasakan orang lain.

Dengan rasa itu, orang bisa menemukan kekuatan ghaib yang tersembunyi. Dengan rasa itu, orang bisa musyahadah kepada Allah melihat dengan jelas. Saat orang mampu musyahadah, maka dia menjadi orang yang bijaksana dan mampu mentadabburi segala sesuatu. Rasa inilah yang mewariskan haibah dan ketaqwaan kepada Allah. Semakin dalam keberagamaan seseorang, maka akan semakin tunduk kepada Allah, tidak sombong dan tidak menghinakan orang lain.

Banyak orang disebut Ulama, yakni banyak ilmunya dan banyak ilmu agamanya, tetapi belum tentu Beragama. Karena ilmu dan ilmu agamanya belum mengantarkan dirinya untuk punya “rasa”. Rasa adalah hakikat, maka rasa tidak bisa dibohongi. Iklan kecap Bango menyatakan “Rasa tidak bisa dibohongi.” Orang bisa tertipu dengan warna dan penampilan, tetapi tidak bisa ditipu dengan rasa. Gula warna putih, garam warna putih, tepung warna putih, tetapi rasa akan jujur tidak berbohong.

Jadi manakala seseorang sudah bisa mencapai “Halah Qalbiyyah” yakni mencapai pada rasa, maka dia telah beragama. Pada saat itulah dia menjadi humanis rahmat bagi alam semesta. Dia akan berdamai dengan siapa saja tanpa membedakan ras, dia berbagi kasih dan sayang dengan siapa saja, dan dia bisa berkeja sama dengan siapa saja. Ilmu agama yang belum mengantarkan diri pada halah qolbiyyah beragama, dia akan cenderung menjadi egosentris, tidak bisa menerima pendapat orang lain dan kehilangan toleransi. Wallahu a’lam….

Catatan saya:

Dalam beberapa dimensi terutama substansi agama saya setuju. Agama adalah rasa, yang dengannya dapat menggapai suasana batin yang hakiki, sampai kepada ma’rifatulloh. Itulah inti agama yang sering didengungkan oleh para sufi, para wali dan bahkan para nabi kepada ummatnya yang “khusus”.

Namun, dalam mencapai rasa tak elok rasanya dengan cara yang tidak benar. Cara itu disebut syariah. Jika substansi kita adalah pergi ke Jakarta, maka tak elok jika tidak mengetahui arah, peta, ongkos, moda dan seterusnya menuju Jakarta. Walau tidak ada cara tunggal, namun tetap harus dipastikan jalannya lebih baik, efisien, efektif dan tidak menyesatkan. Itulah syariat, yang dengannya kita didrive untuk menggapai rasa yang benar-benar rasa, bukan rasa bohongan.

Manunngaling kawula gusti adalah contoh mengedepankan rasa tapi abai kepada cara. Orang fikih menyebutnya “fahua Jindik”. Kafir jindik jiga hakikat tak dibarengi syariat.

Memang betul bahwa syariat bisa sama bisa berbeda antar agama, toh sumber agama adalah satu. Nama Ibrohim saja yang menjadi biang agama Semitis (Yahudi, Nasrani dan Islam) diinterpretasikan berbeda, seperti Abraham atau Brahma, atau Brahmana oleh Hindu. Istrinya Sarah menjadi Saraswati. Terjadi sinkretisme agama dan kearifan lokal dalam perjalanan sejarahnya. Itulah ilmu agama, bisa tereduksi bisa juga direkonstruksi atau direproduksi. Bisa jadi ada tangan tangan jahil dalam perjalanannya menuju ummat yang pastinya berlatar beda satu sama lain.

Maka, Islam ingin meluruskan. Semua agama itu diakui, sekaligus diakhiri. Islam mengakui perjanjian lama dan perjanjian baru, tapi Islam memutuskan untuk meyakini satu perjanjian saja yakni perjanjian terakhir (qur’an). Biarkan itu semua menjadi sejarah yang mana ada persamaan ada juga perbedaan. Persamaan adalah inti ajaran, perbedaan adalah pikiran jahil para pendustanya.

Quran sebagai panji syariat yang dilengkapi contoh operasional bernama sunnah adalah cara yang tertuliskan (qauli). Ada banyak cara yang tak tertuliskan (kauni) dari hukum Allah. Semua berupa hukum alam yg bertebaran, sehingga Quran didesain dg kalimat majazi, hiperbol dan tidak mudah diinterpretasi. Walaupun akhir dari petualangan narasinya adalah bagaimana rasa beragama itu hadir untuk mendorong manusia sadar akan perannya. Yakni, jadi hamba Allah yang muttaqin.

Wallahu a’lam.
Bumisyafikri, 4 Ramadhan 1440